Rabu, 16 April 2014


Hari Raya Nyepi

Sejarah Hari Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun BaruSaka. Dimana pada hari ini umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pembersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia  dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang . Hari Raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang diyakini saat baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dan dipercayai merupakan hari penyucian para dewa yang berada dipusat samudra yang akan datang kedunia dengan membawa air kehidupan (amarta ) untuk kesejahteraan manusia dan umat hindu didunia
Makna Hari Raya Nyepi
Nyepi asal dari kata sepi (sunyi, senyap). yang merupakan perayaan Tahun Baru Hinduberdasarkan kalender Saka, kira kira dimulai sejak tahun 78 Masehi. Pada Hari Raya Nyepi ini, seluruh umat Hindu di Bali melakukan perenungan diri untuk kembali menjadi manusia manusia yang bersih , suci lahir batin. Oleh karena itu semua aktifitas di Bali ditiadakan, fasilitas umum hanya rumah sakit saja yang buka. Ada beberapa upacara yang diadakan sebelum dan sesudah Hari Raya Nyepi :
Upacara Melasti
Selang waktu dua tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, diadakan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis, dihari ini, seluruh perlengkapan persembahyang yang ada di Pura di arak ke tempat tempat yang mengalirkan dan mengandung air seperti laut, danau  dan sungai, karena laut, danau dan sungai adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa membersihkan dan menyucikan dari segala kotoran yang ada di dalam diri manusia dan alam.
Upacara Bhuta Yajna
Sebelum hari Raya Nyepi diadakan upacara Bhuta Yajna yaitu upacara yang mempunyai makna pengusiran terhadap roh roh jahat dengan membuat  hiasan atau patung yang berbentuk atau menggambarkan buta kala ( Raksasa Jahat ) dalam bahasa bali nya sebut ogoh ogoh, Upacara ini dilakukan di setiap rumah, Banjar, Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Upacara ini dilakukan di depan pekarangan , perempatan jalan, alun-alun maupun lapangan,lalu ogoh ogoh yang menggambarakan buta kala ini yang diusung dan di arak secara beramai ramai oleh masyarakat dengan membawa obor di iringi tetabuhan dari kampung kekampung, upacara ini kira kira mulai di laksanakan dari petang hari  jam enam sore sampai  paling lambat jam dua belas malam,  setelah upacara ini selesai ogoh ogoh tersebut di bakar, ini semua bermakna bahwa seluruh roh roh jahat yang ada sudah diusir dan dimusnahkan
Saat hari raya Nyepi, seluruh umat Hindu yang ada di bali wajibkan melakukan catur brata penyepian. Ada empat catur brata yang menjadi larangan dan harus di jalankan :
  1. Amati Geni: Tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
  2. Amati Karya: Tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan  menyucikan rohani.
  3. Amati Lelungan: Tidak berpergian melainkan mawas diri,sejenak merenung diri tentang  segala sesuatu yang kita lakukan saat kemarin , hari ini dan akan datang.
  4. Amati Lelanguan: Tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusat.  Pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” saat fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya, selama (24) jam.
Upacara Ngembak Geni
Upacara Hari Ngembak Geni berlangsung setelah Hari Raya Nyepi berakhirnya  ( brata Nyepi ). Pada esok harinya dipergunakan melaksanakan Dharma Shanty, saling berkunjung dan maaf memaafkan sehingga umat hindu khususnya bisa memulai tahun baru Caka dengan hal hal baru yang fositif,baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. sehingga terbinanya kerukunan dan perdamaian yang abadi
Menurut  tradisi, pada hari Nyepi ini semua orang tinggal dirumah untuk melakukan puasa, meditas dan bersembahyang, serta menyimpulkan menilai kwalitas pribadi diri sendiri. Di hari ini pula umat Hindu khususnya mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendekatan rohani yang telah dicapai, dan sudahkah lebih mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini.
Seluruh kegiatan upacara upacara tersebut di atas masih terus dilaksanakan, diadakan dan dilestarikan secara turun menurun di seluruh kabupaten kota Bali hingga saat ini dan menjadi salah satu daya tarik adat budaya yang tidak ternilai harganya baik di mata wisatawan domestik maupun manca negara.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa makna Nyepi itu sendiri adalah manusia diajarkan untuk mawas diri, merenung sejenak dengan apa  yang telah kita perbuat. Dimasa lalu, saat ini dan merencanakan yang lebih baik dimasa yang akan datang dengan tidak lupa selalu bersykur dengan apa yang telah diberikan oleh sang Pencipta
Bagi anda yang sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas yang begitu padat ada baik nya anda meluangkan waktu sejenak keluar dari hiruk pikuk tersebut dan datang ke Bali sekedar introspeksi diri bahwa dalam kehidupan ini mempunyai terkaitan antara satu dan lain nya dan tidak lupa menyaksikan keadaan di Bali saat hari raya Nyepi akan terasa beda nya




Upacara pembakaran jenazah di Bali paling megah di dunia
Untuk masyarakat Bali, hanya melalui pembakaran jenazahlah jiwa dapat dilepaskan dari dunia sementara untuk mendapatkan kehidupan setelah kematian. Dan untuk menjalani ini beberapa upacara dan ritual harus diikuti, terutama ketika keturunan kerajaan meninggal. Pada kematian tubuh harus dibakar oleh api karena jiwa harus kembali pada lima elemen yang dikenal dengan Panca Maha Buta (bumi, angin, api, air dan eter)  hal ini bertujuan untuk mengirim jiwa pada kehidupan setelah kematian.
Hanya dengan mengikuti upacara dan ritual yang layak dan tepat, jiwa akan bebas dari tubuh untuk dilahirkan kembali dan akhirnya menggapai Moksa, kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi.
Upacara pembakaran jenazah di Bali mewah dan mahal. Lebih tinggi status seseorang, persiapan megah dan dekorasi yang dibutuhkan akan semakin tinggi. Oleh karena itu, jenazah Almarhum harus dikubur untuk beberapa saat sebelum keluarga dan masyarakat bisa mengumpulan dana yang cukup. Ini merupakan adat yang umum bagi masyarakat biasa untuk menunggu pembakaran jenazah seorang bangsawan atau pemuka agama yang nantinya digabung dalam ritual ngiring untuk pembakaran jenazah keluarga mereka jika diizinkan.
Beberapa hari sebelum hari pembakaran, jiwa Almarhum yang mengembara dipanggil untuk bersatu dengan tubuhnya, biasanya disimbolkan oleh patung orang, dibawa ke rumah untuk dimandikan berulang-ulang, dipersiapkan oleh anggota keluarga.
Pada malam pembakaran, para pendeta mempersembahkan persembahan pada kekuatan supranatural yang diminta untuk membuka jalan bagi jiwa, sementara para anggota keluarga berdoa untuk membebaskan jiwa Almarhum ke surga.
Hari berikutnya, jenazah dibawa ke alam terbuka dimana pembakaran diadakan, yang biasanya setelah matahari melewati titik puncaknya. Ketika semua tubuh sudah terbakar, anggota keluarga mengumpulkan debu-debu dan tulang Almarhum, dan kemudian patung orang yang meninggal tersebut dibawa dalam prosesi di laut atau sungai, kemudian debu dituangkan ke dalam air, kedalam perlindungan dewa laut.
Bulan-bulan atau tahun-tahun berikutnya setelah pembakaran, ketika dana sudah cukup terkumpul, akan ada upacara-upacara lagi untuk meyakinkan pemisahan jiwa yang sempurna dari ikatan keduniawian, bertujuan untuk melepaskan jiwa ke surga. Pada upacara terakhir disebut upacara nyagara-gunung, keluarga mengekpresikan terima kasih mereka pada dewa laut di candi-candi gunung dimana jiwa yang suci diabadikan di candi, untuk menunggu kelahiran kembali atau kebebasan dari lingkaran kelahiran kembali.
(Sumber: Periplus Guide to Bali ; dan Indonesian Heritage Books:  Religion and Ritual) 

Kain Poleng Bali : Apa Makna Filosofisnya...

Kain Poleng_kain bermotif kotak dengan warna hitam-putih ini mungkin tidak berlebihan kalau diidentikan sebagai “warna khas Bali”. Dengan mudah kain ber motif ini ditemui hampir disetiap per-empatan, pohon besar, gerbang pura bahkan dipakai pula sebagai kain (jarig) penari kecak dan para pengawal/petugas keamanan tradisional (pecalang).

Bagi rekan-rekan penggemar cerita wayang, kain poleng juga dapat dilihat pada beberapa tokoh utama seperti Bima dan Hanoman.

Kain Poleng rupanya kini sudah menjadi bagian dari kehidupan religius umat Hindu di Bali. Tidak saja digunakan untuk keperluan religius yang sifatnya sakral, kain poleng juga banyak digunakan untuk hal-hal yang sifatnya profan atau sekuler.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJHcTjka6ecUMzsu3mlfTXWEknwBw51Ubx2rZQN4s6mWixM3xCGXz138fCnVUA36k28DfkPbpIj_qS1GPkjl_jIE5VWhXqsoztfr8T_hgP6GNuElzeHRH_l2VbzY8RikbrBxvqM9pr1QY/s1600/RFNDXzM0MDEtS0ZLLmpwZw%253D%253D.jpg
Cermin baik dan buruk
Di pura, kain poleng digunakan untuk tedung (payung), umbul-umbul, untuk menghias palinggih (tugu), patung, kulkul (kentongan). Tidak hanya benda seni sakral, bahkan pohon yang ada di pura pun banyak dililit dengan kain poleng.


Semua orang pula tahu, bahwa kain poleng juga banyak digunakan untuk menghias benda-benda profan baik di perkantoran maupun di hotel. Misalnya untuk meja makan dan benda-benda lain yang ada di sana. Namun kain poleng untuk benda profan ini sering dicampuri dengan corak atau motif baru sehingga disebut kain poleng anyar.



Demikian pula dalam kesenian Bali, baik itu seni drama, dramatari, maupun pedalangan. Dalam drama gong, yang sering memakai kain pleng adalah penakawannya. Sedangkan dalam wayang kulit, tokoh yang memakai hiasan poleng, selain penakawan Tualen dan Merdah, juga tokoh penting seperti disebutkan di atas.
http://budaya.files.wordpress.com/2010/05/wayan-covarrubias-bhuja.jpg
Sangut, Delem, Merdah Tualen
Apa sebenarnya makna kain poleng itu? Apa pula perannya dalam kehidupan umat Hindu? Bagaimana pula nilai-nilai filosofisnya? I Ketut Rupawan mencoba mencari jawabannya dengan melakukan penelitian ilmiah. Hasil penelitiannnya itu ternyata mendapat 'pengakuan' dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, sehingga peneliti yang sehari-harinya guru ini, berhak menyandang gelar Magister Agama Hindu (M.Ag). Tesis itu kemudian dipermak sedemikian rupa menjadi sebuah buku dan kini beredar lebih luas dalam masyarakat.

Beraneka Ragam

Menurut penelitian Rupawan, bentuk saput poleng ternyata beraneka ragam. Misalnya dari segi warna, ukurannya, hiasannya, hiasan tepinya, bahan kainnya, dan ukuran kotak-kotaknya. Berdasarkan warnanya, ada kain poleng yang disebut rwabhineda (hitam dan putih), sudhamala (putih, abu-abu, hitam), dan tridatu (putih, hitam, merah). Dilihat dari segi ukuran kotaknya pun berbeda. Ada yang berukuran 1 x 1 cm, 3 x 3 cm, dan 5 x 5 cm.

Sejak kapan kain poleng ini muncul dan digunakan umat Hindu dalam kehidupan religius? Rupawan sendiri tidak mendapatkan sumber tertulis. Namun berdasarkan hasil wawancaranya dengan berbagai informan, kain poleng sudah digunakan sejak dahulu (tidak disebutkan secara pasti). Diperkirakan, kain poleng yang pertama ada dan digunakan umat Hindu adalah kain poleng rwabhineda.
Setelah itu barulah muncul kain poleng sudhamala dan tridatu. Berdasarkan perkiraan, perkembangan warna ini juga mencerminkan tingkat pemikiran manusia, yakni dari tingkat sederhana menuju perkembangan yang lebih sempurna.

Makna filosofis saput poleng rwabhineda, menurut Rupawan adalah mewujudkan rwabhineda itu sendiri. Menurut faham Hindu, rwabhineda itu adalah dua sifat yang bertolak belakang, yakni hitam-putih, baik-buruk, utara-selatan, panjang-pendek, tinggi-rendah, dan sebagainya.

Sedangkan saput poleng sudhamala merupakan cerminan rwabhineda yang diketengahi oleh perantara sebagai penyelaras perbedaan dalam rwabhineda.

Kain Poleng Sudhamala dan Tridatu
Filosofi yang sama juga tercermin dalam saput poleng tridatu. Warna tridatu ini melambangkan ajaran Triguna yakni satwam, rajah, tamah. Warna putih identik dengan kesadaran atau kebijaksanaan (satwam), warna merah adalah energi atau gerak (rajah) dan warna hitam melambangkan penghambat (tamah).

Jika dikaitkan dengan Dewa Tri Murti, menurut Rupawan, warna merah melambangkan Dewa Brahma sebagai pencipta, warna hitam lambang Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan warna putih melambangkan Dewa Siwa sebagai pelebur. Dewa Tri Murti ini terkait dengan kehidupan lahir, hidup dan mati.

Kain Poleng dalam budaya Bali merupakan pencetusan ekspresi penghayatan konsep Rwa Bhineda, suatu konsep keseimbangan antara baik dan buruk, yang menjadi intisari ajaran tantrik (tantrayana).
Dengan menjaga kesimbangan antara kebaikan dan keburukan dapat menciptakan kesejahteran dalam kehidupan.

Kain Poleng yang diikatan pada pohon-pohon besar atau juga tempat yang dianggap tenget(angker) dimaksudkan untuk memberikan tanda bahwa pada lokasi tersebut tinggal (ditempatkan)/stana energi “roh”para bhuta/penunggu karang (danhyangan).

Kesakralan lokasi ini akan dijaga oleh warga setempat dengan memberikan “sesaji” secara rutin setelah mereka menghaturkan puja di pura.


Seragam Pecalang

Kini, saput poleng seakan-akan sudah menjadi busana seragam bagi pecalang (petugas keamanan desa adat). Hal itu memang sudah diisyaratkan oleh Lontar Purwadigama, bahwa seorang pecalang setidak-tidaknya mengenakan udeng atau destar khusus yang berbeda dengan udeng yang dikenakan patih sebagai pejabat kerajaan, mewastra akancut nyotot pratiwi (memakain kain atau kamben dengan ujung kain menusuk tanah), makampuh poleng (memakai saput poleng), dan sebagainya.

Pecalang : menegakkan kebenaran

Dengan demikian pecalang semestinya bercermin pada saput poleng yang dikenakan, yakni mengetahui adanya rwabhineda, keadaan aman dan kacau, baik maupun buruk, yang selanjutkan melalui kedewasaan intelektual dan kesigapannya (celang), dapat mengendalikan situasi sehingga ketertitaban Desa Pekraman dapat diwujudkan.

Kain Poleng yang dipakai oleh para pecalang juga terilhami oleh konsep ini, dimana seorang yang dipercayai oleh warga untuk menjadi “pengaman” hendaknya mampu dengan tegas memilah yang benar dan buruk


MAKNA DAN ARTI CANANG DALAM PERSEMBAHYANGAN

makna dan arti canang dalam persembahyangan

Umat hindu dalam persembahyangangan selalu menggunakan sarana salah satunya yaitu canang. Tetapi  apakah sudah tau apa arti dan makna canang sebagai sarana dalam persembahyangan?? Kadang-kadang pertanyaan kecil seperti ini yang diucapkan oleh teman-teman yang berbeda keyakinan membingungkan untuk dijawab. Begitu juga untuk meningkatkan bhakti dalam persembahyangan pengetahuan dan arti sarana persembahyangan sangat penting.
Dalam buku “sembahyang menurut hindu” disebutkan kata canang berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti sirih,  untuk disuguhkan kepada tamu yang amat dihormati.  Zaman dahulu sirih sangat bernilai tinggi dan sebagai lambang penghormatan. Setelah agama hindu berkembang di Bali sirih menjadi unsur yang sangat penting dalam upacara agama dan kegiatan-kegiatan adat lainnya. canang adalah sirih itu sendiri, betapapun indahnya canang kalau tidak dilengkapi dengan porosan yang bahan dasarnya sirih, belumlah canang itu namanya.
Perlengkapan canang yaitu ceper atau daun pisang sebagai alas, di atasnya berturut-turut disusun perlengkapan yang lain seperti pelawa (daun-daunan), porosan yang terdiri dari sirih , kapur dan pinang lalu dijepit dengan sebuah janur, di atasnya diisi tangkih/kojong dari janur yang berbentuk bundar disebut urrassari, dapat juga ditambahkan dengan pandan arum yang diisi dengan wangi-wangian.
Dari unsur-unsur pokok canang sari itu maka akan terrlihat jelas arti dan makna canang , unsur pokoknya dan artinya adalah sebagai berikut:
1.    Ceper/ daun pisang  sebagai alas dan tempat meletakkan unsur-unsur pembentuk canang.
2.    Porosan, porosan terdiri dari pinang dan kapur (pamor) yang dibungkus dengan daun sirih. Lontar yadnya prakerti menyebutkan: pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan tuhan dalam manifestasinya sebagai  Sang Hyang Tri Murti. Pinang melambangkan pemujaan kepada dewa Brahma sebagai pencipta , sirih melambangkan pemujaan kepada dewa Wisnu sebagai pemelihara dan kapur Melambangkan pemujaan Kepada Dewa Siwa sebagai pelebur. Jadi makna porosan yaitu memohon tuntunan dan kekuatan dari Tuhan yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti agar dapat menciptakan sesuatu yang baik , memelihara sesuatu yang baik , dan meniadakan sesuatu yang bernilai negatif, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan semakin baik.
3.    Plawa atau daun-daunan. Dalam lontar yadnya prakerti disebutkan bahwa plawa merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci. Jadi dalam memuja tuhan harus dengan pikiran yang hening dan suci. Karena pikiran yang tumbuh menuju kesucian dan keheningan itulah yang dapat menangkal pengaruh buruk dari nafsu duniawi.
4.    Bunga. Bunga merupakan lambang keiklasan.  Memuja tuhan harus dengan hati yang iklas dan suci dari hati yang terdalam. dalam hidup kita harus mampu mengiklaskan diri dari berbagai ikatan duniawi sebab cepat atau lambat dunia ini akan kita tinggalkan karena tidak ada yang kekal di dunia ini.
5.    Jejaritan, reringgitan atau tetuwasan. Jejaritan merupakan lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran. Hidup ini banyak sekali godaan-godaan yang bersifat duniawi yang datang silih berganti yang menggoyahkan pikiran suci kita untuk menuju kebaikan. Maka tetaplah menuju jalan suci yaitu jalan menuju kebenaran tuhan.
6.    Urassari, Urassari   berbentuk garis  silang  yang menyurpai tapak dara atau bentuk sederhana dari swastika (perputaran alam yang seimbang). Urassari yang disusun dengan jejaritan akan membentuk lingkaran padma astadala yang merupakan lambang stana tuhan dengan delapan penjuru mata anginnya. Jadi sampian urassari merupakan lambang permohonan kepada tuhan semoga dalam lingkungan hidup kita selaras dan seimbang.
Canang sari terbentuk dari beberapa unsur seperti dijelaskan diatas dan dapat ditarik kesimpulan bahwa canang mengandung arti dan makna perjuangan  hidup manusia dengan selalu memohon bantuan dan perlindungan tuhan,untuk menciptakan, memelihara, dan meniadakan. Semuanya demi suksesnya cita-cita hidup manusia yakni kebahagiaan.
Pemujaan hidup harus melalui usaha untuk menumbuhkan pikiran jernih dan suci didasarkan atas ketulus iklasan, beryadnya, berbakti, dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada sesama manusia, dan kepada alam lingkungan. Bhagavadgita III,10 disebutkan prajapati (Tuhan) Praja (manusia dan Mahluk lainnya), kamandhuk (alam semesta)
Begitu tingginya filsafat yang dimiliki oleh symbol canang. Yang divisualisasikan dalam bentuk banten yang indah. Dengan kata lain canang adalah bahasa agama hindu  dalam bentuk simbul yang dapat memberikan berbagai keterangan tentang arti dan makna hidup didunia ini.